S2

Kesan Saya Setelah Satu Tahun Kuliah S2 di SBM ITB

Keputusan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi bukanlah keputusan yang ringan untuk diambil. Perlu persiapan dan pertimbangan matang sebelum mengambil langkah tersebut. Terlebih lagi apabila Anda ingin melanjutkan studi S2 setelah beberapa tahun bekerja, tentu Anda perlu mempertimbangan berbagai faktor seperti reputasi kampus, program studi yang akan dipilih, jam kuliah, hingga biaya kuliah.

Pun saya saat dulu akan memilih untuk melanjutkan studi S2. Awalnya saya mengincar beasiswa di kampus luar negeri dengan program full-time agar saya bisa fokus ke studi saya. Namun seperti kata pepatah “malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih”, saya gagal mendapatkan beasiswa yang saya incar walau sudah berkali-kali mencoba. Tapi saya tidak patah arang dan tetap bertekad untuk melanjutkan S2 walaupun dengan biaya sendiri.

Kuliah dengan biaya sendiri tentunya berbeda pertimbangannya dengan beasiswa, apalagi dengan tabungan yang terbatas seperti saya. Saat saya memutuskan kuliah dengan biaya sendiri, mau tidak mau saya tidak bisa mengambil program reguler atau full-time, karena saya harus tetap bekerja untuk menjaga pemasukan demi membayar biaya kuliah dan menjaga dapur tetap ngebul. Setelah mempertimbangkan beberapa pilihan, akhirnya saya memutuskan untuk berkuliah di SBM ITB Kampus Jakarta dengan program studi Business Leadership Executive MBA (BLEMBA). Alasan saya memilih BLEMBA ketimbang kampus dan program lain akan kita bahas di lain waktu, pada artikel kali ini saya akan membahas kesan saya setelah kurang lebih satu tahun berkuliah di BLEMBA SBM ITB.

SBM ITB didirikan pada tahun 2003 di Bandung. Pada awalnya, SBM ITB diinisiasi oleh beberapa dosen ITB jurusan Teknik Industri. Pada tahun 2007, SBM ITB membuka kampus baru di Jakarta. Saat ini SBM ITB Jakarta berlokasi di Menara Indorama, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. BLEMBA adalah salah satu program paling tua dan paling favorit di SBM ITB Kampus Jakarta. Seperti tertulis di namanya, BLEMBA adalah program MBA Eksekutif, artinya perkuliahan dilakukan di luar jam kerja normal. Selain itu BLEMBA juga disasar untuk para profesional yang sudah berpengalaman di bidangnya masing-masing. Keberagaman latar belakang dan pengalaman murid dan dosen menjadi daya tarik dan keunggulan program BLEMBA dibanding program lainnya. Setiap tahun SBM ITB Kampus Jakarta membuka dua kali pendaftaran, pada semester genap dan semester ganjil. Untuk informasi lebih lengkap mengenai SBM ITB Kampus Jakarta, Anda bisa membuka tautan berikut: MBA Jakarta Kampus FAQ.

Saya mulai berkuliah di SBM ITB pada bulan Januari tahun 2020 dan bergabung di BLEMBA angkatan ke-27, sayangnya baru beberapa bulan masuk kuliah, pandemi COVID-19 menyerang dan menyebabkan semua perkuliahan tatap muka diberhentikan dan diganti menjadi kuliah online. Namun demikian, saya sempat mengalami kuliah secara tatap muka sehingga bisa memberikan kesan saya terhadap perkuliahan di SBM ITB Kampus Jakarta, khususnya jurusan BLEMBA.


FASILITAS KAMPUS

SBM ITB Kampus Jakarta terletak di Menara Indorama lantai 12, letaknya cukup strategis di tengah kota sehingga mudah untuk dicapai.

Di SBM ITB Jakarta terdapat beberapa ruangan kelas dan auditorium yang digunakan untuk kegiatan perkuliahan. Karena kelas BLEMBA 27 yang cukup besar (64 orang), saya baru pernah menggunakan satu ruangan yaitu auditorium Henk Uno yang merupakan ruangan terbesar. Di auditorium ini terdapat 2 proyektor di kanan dan kiri, 1 TV untuk dosen, seperangkat PC untuk dosen, dan papan tulis.

BLEMBA 27 class after Business Ethics lecture with Pak Ucok (Ir. Abdul Hamid Batubara, MBA)

Selain ruangan kelas dan auditorium, terdapat juga beberapa meeting room dan area diskusi diskusi di lorong kampus. Seperti kampus pada umumnya, terdapat pula perpustakaan yang menyediakan beberapa buku referensi. Koleksi yang ada di perpustakaan kampus Jakarta ini tidak begitu lengkap, karena ukuran perpustakaannya pun sangat kecil. Namun selain perpustakaan fisik, terdapat juga perpustakaan digital, akses ke beberapa jurnal internasional, dan akses ke arsip tugas akhir milik senior-senior di kampus Jakarta sebelumnya.

Fasilitas lain yang juga diberikan ke mahasiswa adalah lisensi beberapa aplikasi seperti Office365. Setiap hari perkuliahan juga disediakan makan siang yang lumayan enak walaupun berbentuk nasi kotak.

TEMAN KULIAH

Saya cukup beruntung memilih program studi BLEMBA karena teman kuliah yang satu kelas semua sudah memiliki pengalaman kerja dan cukup mumpuni di bidang masing-masing. Ini membuat setiap case study dan diskusi menjadi kaya insight dunia nyata. Hal yang berbeda dialami kawan saya yang mengambil program YP (Young Professional) yang banyak berisi fresh graduate, diskusinya tidak sekaya di BLEMBA.

Teman-teman sekelas bisa dibilang semuanya kooperatif, bisa bekerja sama, bertanggung jawab, dan saling menghormati. Pergaulan pun berlangsung cukup akrab dan cair, dengan beberapa kelakar yang terlontar. Saat ada tugas kelompok pun semua menunjukkan usaha untuk bisa berkontribusi aktif.

DOSEN

Berbicara tentang dosen, tentunya kualitas dosen ITB tidak diragukan lagi. Selain akademisi yang mengajar full-time, banyak juga profesional yang menjadi dosen maupun guest lecturer di sini. Beberapa dosen yang berasal dari kalangan profesional juga tidak main-main dan menjabat pada posisi penting seperti CEO maupun komisaris di perusahaan besar. Rata-rata dosen di SBM ITB lulusan luar negeri, walaupun tidak semuanya memiliki gelar S3.

Setiap dosen yang mengajar menunjukkan keilmuan yang dalam di bidang yang diajarkannya. Banyak insight dan pengalaman yang mereka bagikan kepada mahasiswa sehingga proses pembelajaran menjadi lebih membumi sesuai keadaan di dunia nyata, bukan hanya teori di buku. Dari sisi penyampaian materi, sejujurnya biasa saja, presentasi dan penjelasan.

PERKULIAHAN

Proses perkuliahan di SBM ITB dilakukan full Bahasa inggris, jadi kalau Anda ingin berkuliah di sini, sebaiknya persiapkan kelancaran cas cis cus dalam Bahasa Inggris. Proses perkuliahan sendiri bisa dibagi menjadi 3 bagian yaitu penyampaian materi, case study, dan ujian. Sebagian besar mata kuliah menitikberatkan pembelajaran melalui case study, walau tidak semua ada case study, mata kuliah accounting misalnya. Saat pembahasan case study, biasanya mahasiswa dibagi kedalam kelompok-kelompok yang sudah mempersiapkan materis case study sebelumnya. Kelompok-kelompok ini akan mempresentasikan isi case study serta memimpin jalannya diskusi.

Keaktifan adalah hal yang penting dalam perkuliahan di SBM ITB, tidak jarang mata kuliah memberi porsi yang besar dalam penilaian keaktifan dan partisipasi, bahkan hingga 25% dari total nilai. Namun keaktifan yang dicari bukan asal komentar atau curhat yang tidak menambah pengetahuan rekan lainnya ya, yang seperti itu tidak dinilai. Yang dicari adalah komentar atau pertanyaan yang menggali materi lebih dalam atau memperkaya sudut pandang dari kasus yang sedang dibahas. Mendapatkan nilai keaktifan ini cukup sulit apalagi di kelas yang cukup besar seperti di BLEMBA.

MATERI PENDUKUNG

Saat kuliah S1 dulu, saya mendapat banyak sekali buku (pinjaman) dari kampus, setiap mata kuliah pasti ada bukunya, kadang lebih dari satu, dan tebal-tebal sekali. Di SBM ITB, saya tidak mendapatkan buku, hanya diberikan modul yang isinya print out case dan bacaan yang dijilid menjadi satu. Selain itu ada juga case dan buku yang berbentuk soft copy.

BEBAN KULIAH

Bagian ini mungkin yang paling penting untuk Anda tahu. Beban kuliah S2 itu lebih berat dari S1, apalagi kalau mengambil kelas eksekutif yang membuat Anda masih memiliki tanggung jawab harian di tempat kerja.

Beban pertama tentu karena banyaknya kasus yang perlu dibaca sebelum kuliah. Rata-rata bacaan setiap kasus panjangnya beberapa belas halaman. Untungnya tidak semua case dan tidak semua buku wajib dan perlu dibaca, cukup yang akan kita presentasikan saja. Tapi tentu lebih baik baca semua agar bisa ikut diskusi lebih baik. Satu lagi hal yang menyulitkan adalah karena adanya presentasi kasus yang harus dikerjakan secara kelompok. Di kelas eksekutif yang semua mahasiswanya memiliki pekerjaan harian, mengatur jadwal untuk mengerjakan tugas adalah hal yang menantang, sering kali kami perlu kerja kelompok sampai larut malam untuk menyelesaikan presentasi.

Kuliah di BLEMBA SBM ITB dilakukan hari Jumat-Sabtu-Minggu untuk mata kuliah 3 SKS dan Sabtu-Minggu untuk mata kuliah 2 SKS. Setiap hari kuliah dimulai jam 8 pagi dan selesai paling cepat jam 5 sore, kecuali bila hari minggu dan ujian take home, kadang jam 1 sudah selesai. Kuliah seharian tentu lumayan membebani pikiran dan membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Belum lagi banyak sekali ilmu yang masuk yang artinya akan banyak juga yang akan terlupakan. Ujian biasanya ada setiap hari minggu, minggu pertama biasanya mid exam, sedangkan minggu kedua final exam untuk mata kuliah itu.


Demikian sedikit yang bisa saya bagikan mengenai kesan saya setelah satu tahun berkuliah di SBM ITB Kampus Jakarta. Sejauh ini saya cukup puas dan senang dengan ilmu yang saya dapat, walaupun memang karena kuliah online rasanya sedikit rugi karena interaksi tidak bisa maksimal. Saya masih merekomendasikan Anda untuk melanjutkan S2 di SBM ITB, walaupun kalau Anda masih bisa menunggu, lebih baik menunggu setelah pandemi selesai agar bisa mendapatkan manfaat perkuliahan secara utuh.

Kalau Anda memiliki pertanyaan tentang perkuliahan di SBM ITB Kampus Jakarta, silakan tinggalkan komentar.
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini.
Salam.

46 thoughts on “Kesan Saya Setelah Satu Tahun Kuliah S2 di SBM ITB

  1. hii kak…
    untuk kuliahnya berapa lama ya untuk menyelesaikan kuliah s2 ini? dan bocor2in biaya dong kak hehe

    1. Halo Lestari, kuliahnya ga lama kok, 1.5 tahun aja. Itu 3 semester + 1 semester pendek.
      Untuk biayanya (tahun ini) kalau BLEMBA 30jt per semester, semester pendek 15jt, pendaftaran 10jt, jadi totalnya sekitar 115jt.
      Untuk program lain, yang reguler 20jt per semester, kalau double degree atau kelas internasional 40jt per semester.

    2. terkait adanya Business case analysis yang harus disubmit saat pendaftaran, seberapa susah dan berpengaruhnya dalam mennentukan lulus atau tidak?ada bocaran business case -nya kah?
      Untuk perkuliahan dengan pengantar bahasa inggris, apakah semua mahasiswa yang ikut memiliki kemampuan bahasa inggris yang sama saat dikelas?
      Untuk pendaftaran yang dibagi 3 batch, jika gagal di batch 1, apakah msh bisa mendaftar di batch 3?

      1. Hal Alfred, waktu jaman saya kayaknya ga ada business cas analysis tuh fred, mungkin ini baru ya karena proses online.

        Kemampuan Bahasa Inggris tentu tidak sama, karena ada yang S1 dari Inggris atau Amerika, atau yang kerja di perusahaan multinasional yang pasti Bahasa Inggrisnya lebih cas cis cus. Tapi seiring kuliah lama-lama lancar kok, terlatih juga. Dosen juga maklum kok kalau Bahasa Inggris mahasiswa kurang bagus, beberapa teman saya ada juga yang kalau ga tahu kata Bahasa Inggrisnya ya pakai Bahasa Indonesia aja.

        Untuk pendaftaran setelah gagal batch sebelumnya saya kurang tahu, harusnya sih boleh ya, tapi lebih jelasnya coba tanya ke admission deh
        Phone: +62215296868
        WhatsApp: +628122002242 (Text Only)
        E-mail: admission-jkt@sbm-itb.ac.id

  2. Kak mau nanya dong.. itu kalau daftar s2 manajemen bisnis di ITB daftarnya di ITB bandung nya atau jakarta nya ya? Trus test masuknya sulit gak ya ??

    1. Halo Diyanti, saya dulu daftarnya di websitenya SBM. Kamu bisa cek di link ini: https://www.sbm.itb.ac.id/academic-programs/mba/admission/
      Test masuknya ga sulit kok, hanya TOEFL/IELTS, TPA (tes potensi akademik), lalu wawancara. Wawancaranya ga susah, hanya ditanya motivasi lalu diminta diskusi case study dengan bahasa inggris. Diskusi case study ini selain untuk melihat skill bahas inggris dan penalaran kita, juga untuk gambaran bagaimana proses perkuliahan nantinya.

      1. Halo Arfian, apakah boleh diceritakan wawancara case studynya seperti apa? Dan poin penilaiannya apa aja?

        Thanks

        1. Hi Aditya, untuk case studynya waktu saya dulu kita ada 5 orang. Awalnya disambut oleh tim admission dan diminta isi formulir. Setelah itu tim admission keluar dan masuk dosen pewawancara. Nah dosennya lalu membagikan kertas case, saya lupa berapa halaman, sepertinya 3 halaman. Lalu kita diberi waktu untuk baca case itu. Setelah itu kita diminta ceritakan singkat tentang isi casenya. Terus dosennya akan memberi satu pertanyaan, dan masing-masing kita diminta pendapatnya.

          Untuk poin penilaian saya terus terang kurang tahu karena ga diumumkan nilainya, tahu2 pengumuman lulus aja.

        1. Halo Samsinar, info yang pernah saya dapat dari kampus, per tahun lalu harus pakai TOEFL yang dari SBM ITB, ga boleh pakai yang dari luar. Tapi untuk pastinya coba tanya ke orang admission deh (Mbak Maya).

      2. Selamat malam Pak.Salam kenal nama saya Inno. Baru saja diterima di Blemba utk Aug 2021.Bisa share lebih lanjut Pak untuk silabus dan buku2 yang akan dipakai untuk kuliah.Terimakasih

        1. Halo Inno, selamat atas diterimanya di program BLEMBA 😀
          Untuk silabus dan buku-buku biasanya akan dikirimkan oleh bagian akademik di awal semester.
          Tapi saya ngerti pasti kamu antusias ingin mulai lebih dulu ya, saya pun dulu begitu.
          Nah untuk semester 1 biasanya pelajarannya ada 4 yaitu business ethics, operations, accounting, dan marketing.
          Untuk bukunya saya ga bisa share, lagi pula ketimbang buku, pembelajaran di BLEMBA lebih banyak menggunakan case, jadi saran saya tunggu saja sampai case dibagikan oleh pihak akademik, karena beda dosen beda tahun bisa beda case yang digunakan.

  3. Kak mau tanya kakak S1 nya jurusannya apa sih? Soalnya saya niat melanjutkan S2 SBM ITB tapi jurusan saya itu Teknik Kimia. Menurut kakak bisa gak yah mengikuti nantinya?

    1. Hi Kusuma, saya S1-nya jurusan IT. Program MBA bebas kok S1 jurusan apa aja, teman kelas saya ada yang dari IT, psikologi, farmasi, dll.
      Mengikuti bisa banget kok, saya aja bisa, kamu pasti bisa juga. Asal sediakan waktu aja buat belajar.

    1. Halo Monic, ga bisa Monic, teman saya ada yang coba nyambi kuliah online sambil kerja aja ga kepegang… Harus bener2 fokus. Lagian sayang juga ya udah bayar mahal-mahal tapi dosen jelasin malah ditinggal kerja. Mendingan izin aja ke kantor atau ambil cuti agar kuliahnya fokus ilmunya juga dapet optimal.

  4. Halo kak, thankyou uraiannya bagus skali. mau nanya dong, utk sbm ada program beasiswa apa aja yaa biar biayanya lbh enteng ? Trims

    1. Halo Cinrib, nah tentang beasiswa ini saya pernah dengar, tapi setahu saya harus masuk dulu, ga bisa dari semester 1, tapi lebih jelasnya coba kamu tanyakan ke bagian admission deh
      Phone: +62215296868
      WhatsApp: +628122002242 (Text Only)
      E-mail: admission-jkt@sbm-itb.ac.id

  5. Hi Mas Arfian,
    Thank you for sharing. This convinced me to choose SBM ITB as my next university for my magister degree.

    So I have a question regarding the application process. When you applied at SBM ITB, are you asked to submit the statement of purpose (SoP) form ? Do you have any tips to fill that SoP form ? better use Bahasa or English ?

    thank you

    1. Hi Gilang, that’s great to hear. SBM ITB is a great school.

      There is some kind of a statement of purpose letter that SBM ITB asked us to submit. The title and instruction was in Bahasa Indonesia, so I submitted using Bahasa Indonesia.

      Here is the brief for the statement of purpose:
      PERNYATAAN TUJUAN
      Tulis dalam lembar ini, pernyataan tujuan (statement of purpose) Saudara yang berisi tentang alasan, harapan, dan rencana pendidikan dalam mengikuti program magister, serta rencana pekerjaan dan profesi Saudara di masa mendatang, yang dapat membantu tim seleksi dalam mengevaluasi persiapan dan kemampuan Saudara untuk mengikuti program magister.

      When I made mine, I divided mine into several parts, the first part contains a brief introduction of myself and my background, I then continues to describe on why I want to pursue a magister degree. On the second part I tell about why I chose ITB and what I hope to get in my study. And on the last part I explain about what I think the challenges will be for me to take and finish this program, and how I am going to manage it. Lastly, I close the letter with a brief of what I am planning to do after I finish the program.

  6. hai kak boleh minta kontak wa nya?
    kira2 apa aja yang ngebedain materi dari bedanya jurusan di sbm itb?

    1. Halo Aleq, jangan WA ya, soalnya takut saya terganggu, lagi sibuk kerja euy. Di sini aja atau via LinkedIn saya boleh. Di blog ini kemarin-kemarin sedang jarang saya cek karena sibuk thesis, tapi kedepannya akan sering saya cek lagi karena udah selesai thesisnya.

      Beda materi tiap program saya kurang tahu juga. Tapi saya kebetulan dapat lungsuran presentasi dari senior yang kelas ENEMBA (energy MBA), kalau judul pelajarannya sama, materinya sama kok. Memang untuk program berbeda silabusnya akan berbeda, misalnya saya dapetnya financial management, teman-teman di energy MBA dapetnya financing energy project. Beda judul pelajaran otomatis isinya juga aa perbedaan.

  7. Hi kak nice story thanks! apakah bisa daftar blemba dengan pengalaman hanya 1.5y (vs. 3y sesuai persyaratan)? kalo ditambah dengan program magang2 sebenarnya bisa aja hampir 3y. thanks!

  8. Terima kasih, Mas Alfian. Ulasan yang sangat berguna.
    Sama dengan Mas Alfian, anak saya yang kedua awalnya ingin sekali meneruskan studinya di Inggris, tetapi tidak berhasil meski sudah dua kali ikut test. Akhirnya ia memiliki bekerja sambil kuliah di ITB Jakarta yang mulai belajar Agustus 2021. Terima kasih.

    1. Salam Pak Ketut, salut dengan anak bapak yang tidak menyerah pak. Tidak apa-apa kalau belum jalannya ke Inggris, kita cari jalan lain.

  9. Halo kak, untuk wawancaranya sekarang kan online yah apa tetap dalam 1 kelompok atau 1 on 1? Case studynya waktu itu tentang apa kak?

    1. Halo Trian, terus terang saya kurang tahu nih proses interview sekarang seperti apa, jadi ga bisa jawab, maaf ya. Kalau case study saya dulu spesifiknya saya ga bisa kasih tahu karena itu confidential dari kampus, tapi topiknya itu tentang keputusan perusahaan untuk mengubah bisnis model.

  10. Halo pak arfian, mau tanya, untuk kelas khusus yang sabtu – minggu saja, hari minggu nya dari jam berapa sampai jam berapa ya ?

    Terima kasih

    1. Halo Jordy, setahu saya kelas yang Sabtu-Minggu seperti ENEMBA itu sama seperti BLEMBA, dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Bedanya ENEMBA kelasnya setiap minggu, kalau BLEMBA 2 minggu sekali karena ada hari Jumat. Oh ya, kalau Minggu itu kadang hanya setengah hari, karena sisanya itu untuk ujian, walau ujiannya take home pun kuliah tetap hanya setengah hari.

  11. Salam kenal bapak, program BLEMBA ini sprtinya memang utk yg udah expert ya? jika blm ada, apa kira2 bisa masuk seleksi…apa salah satu teman sekelas bapak ada yg blm ada bidang khusus tapi mengikuti program s2 BLEMBA ini? dan untuk seleksi interview, bisa tolong membagi tips pak..? terima kasih

    1. Hi Jesmine, BLEMBA ga harus expert kok, tapi harus punya pengalaman kerja setidaknya 2 tahun. Nah jadi kalau sudah pernah kerja 2 tahun, walaupun belum expert bisa kok masuk. Bagusnya program BLEMBA itu mahasiswanya dari berbagai background ilmu dan keahlian, jadi kalaupun belum bisa dibilang expert, tidak masalah, justru malah bisa belajar dari teman-teman yang lian.

      Untuk interview tipsnya sih latihan reading sama speaking aja, terutama speaking perlu lancar, karena akan ada diskusi dengan dosen pewawancara dengan full english. Kuliah nanti kan juga full english, jadi ga ada salahnya latihan reading dan speaking.

  12. Hi Kak,
    Saya tertarik untuk join MBA program ini tetapi terkendala lokasi kerja (Lampung) yang ga “remote” banget dari Jakarta tapi tetap butuh ekstra effort hehe
    1. Apakah ada kolega Kak Arfi yang domisili luar Jabodatabek?
    2. Untuk kuliah yang hari Jumat, gimana cara handle-nya ya dari perspektif kak Arfi – sedangkan yang kita tau umumnya hari kerja di Indonesia masih Senin-Jumat.
    3. Mungkin ada info insider hehe, kira kira post-covid apakah kelas online tetap ada tau balik lagi ke tatap muka full?

    Thanks kak.
    Salam, Fachri.

    1. Halo Fachri, kalau teman kelas saya di BLEMBA semuanya tinggal di Jabodetabek, ada sih yang di Cilegon, tapi dia kalau kuliah pulangnya ke BSD. Kalau kamu dari Lampung agak berat ya kalau bolak-balik, apalagi kuliah mulainya pagi jam 8. Kalau mau niat mungkin bisa kost di Jakarta, jadi Kamis malam kamu ke Jakarta, Minggu malam balik ke Lampung, itu pun kalau kamu kuat begitu terus setahun lebih…

      Untuk hari Jumat saya sarankan bilang teru terang ke kantor, minta izin bahwa akan kuliah. Biasanya respon kantor akan antara dua, mengizinkan ga masuk, atau disuruh potong cuti. Saya ga menyarankan sembunyi-sembunyi madol kantor untuk kuliah, karena kemungkinan ga bisa. Saat kuliah online pun ada teman yang coba nyambi meeting online dan ga kepegang. Selain itu di BLEMBA kalau kamu absen 5 sesi (1 hari kuliah jam 8-5 itu 5 sesi), kamu akan otomatis fail mata kuliah itu, jadi harus pastikan bisa kuliah di hari Jumat.

      Setahu saya, sampai akhir 2021 kebijakan kampus masih kuliah online, belum ada kabar kembali kuliah tatap muka.

  13. Hi Arfian, thanks for sharing this information. Kalo dari pendapat Arfian lebih baik pilih program BLEMBA atau Executive MBA? Dan apakah ada tips khusus untuk melewati fase wawancara?
    Terima kasih.

    1. Halo Edo,
      Saya kurang ngerti pertanyaannya, karena kan BLEMBA itu ya Executive MBA, kan BLEMBA kepanjangannya Business Leadership Executive MBA.
      Untuk melewati wawancara di SBM ITB tidak perlu persiapan terlalu sulit, karena interviewnya lebih ke pengenalan program dan simulasi case discussion. Jadi kalau mau ada persiapan, mungkin latihan reading dan speaking Bahasa Inggris ya, karena saat interview itu akan ada ngobrol dengan dosen interviewernya, membaca dan memahami case, juga berdiskusi tentang isi case itu.

  14. Halo ka arfian,
    Saya mau tanya, kuliah hari jumat itu kalau masih kerja, berarti harus cuti kerja ya. Apa setiap jumat tidak kerja ka?

    1. Halo Meta,
      Iya kuliah hari Jumat harus cuti atau izin karena kuliahnya seharian dari jam 8 sampai jam 5 sore. Kalau saya dulu kebetulan diizinkan kantor ga potong cuti, tapi teman-teman saya banyak juga yang terpaksa memakai jatah cutinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *