Seperti banyak orang yang sudah lama struggling sama berat badan, gue termasuk yang lumayan “niat”—tapi hasilnya ya gitu-gitu aja. Diet pernah, gym rajin, protein ditambah, karbo dikurangin… tapi angka di timbangan kayak nggak terlalu peduli sama usaha gue.
Jujur aja, sempat ada fase mikir: “Kayaknya emang badan gue begini aja deh.”
Awal Mula: Motivasi yang… Nggak Terlalu Dalam
Motivasi gue bukan karena mau sehat banget atau transformasi hidup.
Simple aja: gue pengen beli open-ear TWS.
Terus istri gue bikin semacam “performance-based incentive”:
- Turun ke 84 kg → boleh beli TWS 300K
- Turun ke 83 kg → boleh beli TWS 500K
KPI rumah tangga, tapi surprisingly… efektif.
Attempt #1: Gym + Protein = Harusnya Berhasil Kan?
Di awal 2025, gue cukup disiplin:
- Makan 2 kali sehari
- Fokus ke protein tinggi, hampir no carbs
- Kadang makan 300 gram ayam sekali makan
- Gym cukup rutin
Secara teori, harusnya ini jalan.
Tapi kenyataannya?
- Tiap diajak makan sama istri → “yaudah cheat dikit lah”
- Cheat dikit jadi sering
- Berat badan… nggak turun
Bahkan kadang naik setelah “cheat day”.
Di situ mulai kerasa: ini bukan cuma soal what to eat, tapi consistency-nya.
Attempt #2: OMAD (One Meal a Day)
Akhir 2025, gue coba pendekatan lain:
- Makan sekali sehari (lunch)
- Protein tinggi, porsi besar
- Malam kalau lapar → makan jelly
- Masih gym juga
Secara discipline, ini lebih rapi.
Tapi hasilnya?
Masih… nggak signifikan.
Gue bisa tahan lapar, tapi berat badan tetap nggak turun banyak.
Plot Twist: Cedera
Desember 2025, gue kena shoulder impingement.
Artinya:
- Nggak bisa angkat berat
- Harus stop heavy workout
Awalnya kesel, karena rutinitas gym keputus.
Tapi ternyata… ini jadi turning point.
Perubahan yang Nggak Sengaja Jadi Jawaban
Karena nggak bisa gym berat, gue adjust:
Exercise:
- Lebih sering jalan kaki
- Atau static bike
- Gym ringan, tanpa beban ke bahu
Makan:
- Tetap 1x sehari
- Tapi porsi jadi lebih moderat (nggak “protein overload” lagi)
- Kadang makan nasi (nggak se-strict dulu)
- Jelly cuma kalau bener-bener lapar (dan makin jarang)
Tanpa gue sadari, ini lebih “balance”.
Faktor yang Paling Ngaruh (Ternyata Bukan Dietnya)
Ini yang paling underrated.
Istri gue juga mulai:
- Diet
- Jalan kaki bareng
Efeknya?
- Nggak ada lagi “yuk makan enak”
- Nggak ada lagi cheat night rutin
- Lingkungan jadi supportive
Di sini gue sadar:
Willpower itu overrated. Environment itu kunci.
Hasilnya?
Dari situ, berat gue mulai turun:
- Dari 91 kg (November 2025)
- Turun ke 83 kg
- Dan Maret 2026… sudah di 79 kg
Tanpa diet ekstrim.
Tanpa olahraga brutal.
Tanpa “suffering mode”.
Laper? Nggak tuh, setelah jalanin ini beberapa minggu, tubuh sudah adaptasi dan ga laper lagi kalau siang, lapernya baru malam saat memang akan makan.
Kenapa Ini Baru Works?
Setelah gue refleksi, ini bukan karena metode aja.
Tapi karena semuanya akhirnya align:
- Kalori masuk vs aktivitas → masuk akal
- Nggak ada pola makan ekstrem
- Rutinitas simpel
- Bisa dijalanin terus (nggak capek mental)
- Lingkungan mendukung
Bukan yang paling cepat, tapi yang paling sustain.
Target Selanjutnya
Perjalanan belum selesai.
Target gue: 75 kg
Artinya masih ada 4 kg lagi
Dan plan-nya… nggak berubah:
- Jalan kaki
- Makan sekali sehari dan porsi ga berlebihan
- Konsisten
Nggak ada strategi baru yang fancy.
Penutup
Dari semua yang gue coba, ternyata jawabannya bukan yang paling “niat”.
Tapi yang paling realistis dan konsisten.
Dan yang paling penting:
Gue akhirnya nemu pola yang nggak bikin gue capek duluan.
Oh ya—TWS-nya?
Udah kebeli 😄
Lumayan, jadi pengingat kalau progress kecil yang konsisten itu emang bisa jadi sesuatu.
Kalau pengalaman diet kamu gimana?
Arfian
Arfian Agus adalah seorang profesional di bidang teknologi dan inovasi digital dengan fokus pada transformasi digital, desain, dan pengembangan produk. Dengan pengalaman yang luas dalam memimpin proyek-proyek teknologi dan menyusun strategi inovasi, Arfian berkomitmen untuk membantu perusahaan beradaptasi dan berkembang di era digital.
Stay in the loop
Subscribe to our free newsletter.
Related Articles
Digital Transformation, Management, Tutorial