Blog, MBA

Kesan Saya Setelah Satu Tahun Kuliah S2 di SBM ITB

Keputusan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi bukanlah keputusan yang ringan untuk diambil. Perlu persiapan dan pertimbangan matang sebelum mengambil langkah tersebut. Terlebih lagi apabila Anda ingin melanjutkan studi S2 setelah beberapa tahun bekerja, tentu Anda perlu mempertimbangan berbagai faktor seperti reputasi kampus, program studi yang akan dipilih, jam kuliah, hingga biaya kuliah.

Pun saya saat dulu akan memilih untuk melanjutkan studi S2. Awalnya saya mengincar beasiswa di kampus luar negeri dengan program full-time agar saya bisa fokus ke studi saya. Namun seperti kata pepatah “malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih”, saya gagal mendapatkan beasiswa yang saya incar walau sudah berkali-kali mencoba. Tapi saya tidak patah arang dan tetap bertekad untuk melanjutkan S2 walaupun dengan biaya sendiri.

Kuliah dengan biaya sendiri tentunya berbeda pertimbangannya dengan beasiswa, apalagi dengan tabungan yang terbatas seperti saya. Saat saya memutuskan kuliah dengan biaya sendiri, mau tidak mau saya tidak bisa mengambil program reguler atau full-time, karena saya harus tetap bekerja untuk menjaga pemasukan demi membayar biaya kuliah dan menjaga dapur tetap ngebul. Setelah mempertimbangkan beberapa pilihan, akhirnya saya memutuskan untuk berkuliah di SBM ITB Kampus Jakarta dengan program studi Business Leadership Executive MBA (BLEMBA). Alasan saya memilih BLEMBA ketimbang kampus dan program lain akan kita bahas di lain waktu, pada artikel kali ini saya akan membahas kesan saya setelah kurang lebih satu tahun berkuliah di BLEMBA SBM ITB.

SBM ITB didirikan pada tahun 2003 di Bandung. Pada awalnya, SBM ITB diinisiasi oleh beberapa dosen ITB jurusan Teknik Industri. Pada tahun 2007, SBM ITB membuka kampus baru di Jakarta. Saat ini SBM ITB Jakarta berlokasi di Menara Indorama, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. BLEMBA adalah salah satu program paling tua dan paling favorit di SBM ITB Kampus Jakarta. Seperti tertulis di namanya, BLEMBA adalah program MBA Eksekutif, artinya perkuliahan dilakukan di luar jam kerja normal. Selain itu BLEMBA juga disasar untuk para profesional yang sudah berpengalaman di bidangnya masing-masing. Keberagaman latar belakang dan pengalaman murid dan dosen menjadi daya tarik dan keunggulan program BLEMBA dibanding program lainnya. Setiap tahun SBM ITB Kampus Jakarta membuka dua kali pendaftaran, pada semester genap dan semester ganjil. Untuk informasi lebih lengkap mengenai SBM ITB Kampus Jakarta, Anda bisa membuka tautan berikut: MBA Jakarta Kampus FAQ.

Saya mulai berkuliah di SBM ITB pada bulan Januari tahun 2020 dan bergabung di BLEMBA angkatan ke-27, sayangnya baru beberapa bulan masuk kuliah, pandemi COVID-19 menyerang dan menyebabkan semua perkuliahan tatap muka diberhentikan dan diganti menjadi kuliah online. Namun demikian, saya sempat mengalami kuliah secara tatap muka sehingga bisa memberikan kesan saya terhadap perkuliahan di SBM ITB Kampus Jakarta, khususnya jurusan BLEMBA.


FASILITAS KAMPUS

SBM ITB Kampus Jakarta terletak di Menara Indorama lantai 12, letaknya cukup strategis di tengah kota sehingga mudah untuk dicapai.

Di SBM ITB Jakarta terdapat beberapa ruangan kelas dan auditorium yang digunakan untuk kegiatan perkuliahan. Karena kelas BLEMBA 27 yang cukup besar (64 orang), saya baru pernah menggunakan satu ruangan yaitu auditorium Henk Uno yang merupakan ruangan terbesar. Di auditorium ini terdapat 2 proyektor di kanan dan kiri, 1 TV untuk dosen, seperangkat PC untuk dosen, dan papan tulis.

BLEMBA 27 class after Business Ethics lecture with Pak Ucok (Ir. Abdul Hamid Batubara, MBA)

Selain ruangan kelas dan auditorium, terdapat juga beberapa meeting room dan area diskusi diskusi di lorong kampus. Seperti kampus pada umumnya, terdapat pula perpustakaan yang menyediakan beberapa buku referensi. Koleksi yang ada di perpustakaan kampus Jakarta ini tidak begitu lengkap, karena ukuran perpustakaannya pun sangat kecil. Namun selain perpustakaan fisik, terdapat juga perpustakaan digital, akses ke beberapa jurnal internasional, dan akses ke arsip tugas akhir milik senior-senior di kampus Jakarta sebelumnya.

Fasilitas lain yang juga diberikan ke mahasiswa adalah lisensi beberapa aplikasi seperti Office365. Setiap hari perkuliahan juga disediakan makan siang yang lumayan enak walaupun berbentuk nasi kotak.

TEMAN KULIAH

Saya cukup beruntung memilih program studi BLEMBA karena teman kuliah yang satu kelas semua sudah memiliki pengalaman kerja dan cukup mumpuni di bidang masing-masing. Ini membuat setiap case study dan diskusi menjadi kaya insight dunia nyata. Hal yang berbeda dialami kawan saya yang mengambil program YP (Young Professional) yang banyak berisi fresh graduate, diskusinya tidak sekaya di BLEMBA.

Teman-teman sekelas bisa dibilang semuanya kooperatif, bisa bekerja sama, bertanggung jawab, dan saling menghormati. Pergaulan pun berlangsung cukup akrab dan cair, dengan beberapa kelakar yang terlontar. Saat ada tugas kelompok pun semua menunjukkan usaha untuk bisa berkontribusi aktif.

DOSEN

Berbicara tentang dosen, tentunya kualitas dosen ITB tidak diragukan lagi. Selain akademisi yang mengajar full-time, banyak juga profesional yang menjadi dosen maupun guest lecturer di sini. Beberapa dosen yang berasal dari kalangan profesional juga tidak main-main dan menjabat pada posisi penting seperti CEO maupun komisaris di perusahaan besar. Rata-rata dosen di SBM ITB lulusan luar negeri, walaupun tidak semuanya memiliki gelar S3.

Setiap dosen yang mengajar menunjukkan keilmuan yang dalam di bidang yang diajarkannya. Banyak insight dan pengalaman yang mereka bagikan kepada mahasiswa sehingga proses pembelajaran menjadi lebih membumi sesuai keadaan di dunia nyata, bukan hanya teori di buku. Dari sisi penyampaian materi, sejujurnya biasa saja, presentasi dan penjelasan.

PERKULIAHAN

Proses perkuliahan di SBM ITB dilakukan full Bahasa inggris, jadi kalau Anda ingin berkuliah di sini, sebaiknya persiapkan kelancaran cas cis cus dalam Bahasa Inggris. Proses perkuliahan sendiri bisa dibagi menjadi 3 bagian yaitu penyampaian materi, case study, dan ujian. Sebagian besar mata kuliah menitikberatkan pembelajaran melalui case study, walau tidak semua ada case study, mata kuliah accounting misalnya. Saat pembahasan case study, biasanya mahasiswa dibagi kedalam kelompok-kelompok yang sudah mempersiapkan materis case study sebelumnya. Kelompok-kelompok ini akan mempresentasikan isi case study serta memimpin jalannya diskusi.

Keaktifan adalah hal yang penting dalam perkuliahan di SBM ITB, tidak jarang mata kuliah memberi porsi yang besar dalam penilaian keaktifan dan partisipasi, bahkan hingga 25% dari total nilai. Namun keaktifan yang dicari bukan asal komentar atau curhat yang tidak menambah pengetahuan rekan lainnya ya, yang seperti itu tidak dinilai. Yang dicari adalah komentar atau pertanyaan yang menggali materi lebih dalam atau memperkaya sudut pandang dari kasus yang sedang dibahas. Mendapatkan nilai keaktifan ini cukup sulit apalagi di kelas yang cukup besar seperti di BLEMBA.

MATERI PENDUKUNG

Saat kuliah S1 dulu, saya mendapat banyak sekali buku (pinjaman) dari kampus, setiap mata kuliah pasti ada bukunya, kadang lebih dari satu, dan tebal-tebal sekali. Di SBM ITB, saya tidak mendapatkan buku, hanya diberikan modul yang isinya print out case dan bacaan yang dijilid menjadi satu. Selain itu ada juga case dan buku yang berbentuk soft copy.

BEBAN KULIAH

Bagian ini mungkin yang paling penting untuk Anda tahu. Beban kuliah S2 itu lebih berat dari S1, apalagi kalau mengambil kelas eksekutif yang membuat Anda masih memiliki tanggung jawab harian di tempat kerja.

Beban pertama tentu karena banyaknya kasus yang perlu dibaca sebelum kuliah. Rata-rata bacaan setiap kasus panjangnya beberapa belas halaman. Untungnya tidak semua case dan tidak semua buku wajib dan perlu dibaca, cukup yang akan kita presentasikan saja. Tapi tentu lebih baik baca semua agar bisa ikut diskusi lebih baik. Satu lagi hal yang menyulitkan adalah karena adanya presentasi kasus yang harus dikerjakan secara kelompok. Di kelas eksekutif yang semua mahasiswanya memiliki pekerjaan harian, mengatur jadwal untuk mengerjakan tugas adalah hal yang menantang, sering kali kami perlu kerja kelompok sampai larut malam untuk menyelesaikan presentasi.

Kuliah di BLEMBA SBM ITB dilakukan hari Jumat-Sabtu-Minggu untuk mata kuliah 3 SKS dan Sabtu-Minggu untuk mata kuliah 2 SKS. Setiap hari kuliah dimulai jam 8 pagi dan selesai paling cepat jam 5 sore, kecuali bila hari minggu dan ujian take home, kadang jam 1 sudah selesai. Kuliah seharian tentu lumayan membebani pikiran dan membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Belum lagi banyak sekali ilmu yang masuk yang artinya akan banyak juga yang akan terlupakan. Ujian biasanya ada setiap hari minggu, minggu pertama biasanya mid exam, sedangkan minggu kedua final exam untuk mata kuliah itu.


Demikian sedikit yang bisa saya bagikan mengenai kesan saya setelah satu tahun berkuliah di SBM ITB Kampus Jakarta. Sejauh ini saya cukup puas dan senang dengan ilmu yang saya dapat, walaupun memang karena kuliah online rasanya sedikit rugi karena interaksi tidak bisa maksimal. Saya masih merekomendasikan Anda untuk melanjutkan S2 di SBM ITB, walaupun kalau Anda masih bisa menunggu, lebih baik menunggu setelah pandemi selesai agar bisa mendapatkan manfaat perkuliahan secara utuh.

Kalau Anda memiliki pertanyaan tentang perkuliahan di SBM ITB Kampus Jakarta, silakan tinggalkan komentar.
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini.
Salam.