Loading...
Agile

Apa Bedanya Sprint Review dan Sprint Retrospective?

Saat ini di kantor saya sedang diberi kepercayaan untuk menjadi mentor untuk salah seorang product owner. Pada sesi one-on-one mingguan kami, anak mentee saya bertanya “Mas, apa sih bedanya Sprint Review dan Sprint Retro?”

Ternyata selama ini dia menjalankan sprint itu hanya ada sprint review saja, tidak pernah ada event khusus untuk sprint retro. Mungkin teman-teman juga mengalami hal yang sama?

Menurut saya pribadi, ceremony scrum yang paling penting itu justru sprint retrospective. Karena saat retro ini lah kesempatan bagi tim untuk bisa review apa saja yang mereka lakukan dan bagaimana bisa melakukannya lebih baik. Continuous improvement. Kaizen. Jadi jangan sampai di-skip dong retronya, penting itu.

Secara singkat, bedanya sprint review dan retro adalah kalau Sprint Review itu bicara hasil, kalau Sprint Retro itu bicara proses.

Review –> hasil
Retro –> proses

Lebih detailnya akan saya bahas di bawah ini.

Sprint Review

Sprint review biasa kita jalankan di akhir sprint. Event ini dihadiri oleh seluruh anggota tim scrum mulai dari Product Owner, Scrum Team, dan juga Scrum Master. Selain anggota tim scrum, boleh juga mengundang orang luar untuk menghadiri sprint review. Misalnya mengundang CEO atau mengundang tim finance apabila yang kita kerjakan di sprint ini relevan untuk mereka ketahui.

Sprint review sendiri panjangnya bervariasi sesuai panjang sprint. Untuk sprint yang panjangnya 2 minggu, sprint review bisa dilakukan hingga 2 jam. Sedangkan untuk sprint 1 bulan, sprint review bisa hingga 4 jam. Waktu yang saya sebutkan di sini itu timebox ya, sama seperti ceremony scrum lainnya, timebox artinya waktu maksimal, kurang dari itu boleh, tapi kalau bisa jangan lebih.

Bagaimana Jalannya Sprint Review

Ada beragam cara untuk menjalankan sprint review, kali ini saya akan share salah satu cara yang biasa saya pakai.

Sprint review dimulai dengan scrum master yang membuka acara. Scrum master bisa juga menampilkan laporan sprint seperti jumlah backlog yang diambil, total point yang disepakati di awal, burndown chart, sprint velocity, dan lain-lain.

Setelah itu salah seorang perwakilan scrum team akan mengambil alih acara dan memulai demo hasil pekerjaan. Demo bisa dimulai dengan membuka backlog yang dikerjakan di sprint itu, scrum team lalu menjelaskan item apa saja yang selesai dikerjakan dan mana yang belum selesai serta mengapa. Apabila teman-teman menggunakan Jira, akan mudah melihat list ini dari halaman sprint report.

Sprint Summary Report

Setelah itu mulailah acara inti dari sprint review, yaitu demo. Demo bisa dilakukan dengan beberapa cara, bisa salah satu anggota tim yang melakukan keseluruhan demo atau bisa juga bergantian sesuai yang mengerjakan. Pada saat sprint demo, yang melakukan demo akan membuka real hasil developmentnya, bukan dalam bentuk screenshot atau presentasi, tapi beneran dibuka aplikasi atau websitenya. Lalu Scrum Team akan menjelaskan tentang fitur yang dibuat dan menunjukkan cara kerjanya. Saat demo berlangsung, Product Owner dapat mengajukan pertanyaan atau memberikan pendapat . Apabila dari pertanyaan atau pendapat itu muncul ide baru yang belum ada di backlog atau di acceptance criteria, jangan lupa dicatat. Demo dilakukan hingga seluruh item yang dikerjakan selesai dibahas, item yang setengah jadi pun boleh saja ditunjukkan.

Setelah demo, Product Owner akan memberikan tanggapan umumnya, apakah dia menerima item yang telah dibuat, atau ada item yang masih belum bisa diterima dan dikembalikan ke backlog.

Proses sprint review pun selesai.

Keputusan release atau tidak tergantung pada Product Owner. Apabila product increment yang dibuat sudah siap release, PO bisa saja memutuskan untuk release segera, atau boleh juga menundanya agar release bersamaan dengan fitur lain.

Sprint Retrospective

Timebox untuk sprint retrospective adalah 1.5 jam untuk sprint 2 mingguan. Biasanya sprint retro dipimpin atau dimoderatori oleh scrum master. Peserta dari sprint retro adalah scrum team. Sebaiknya jangan ada pihak luar, apalagi management, yang ikut di sprint retro.

Seperti halnya Sprint Review, ada banyak cara untuk melakukan Sprint Retrospective. Kali ini saya akan bahas beberapa cara yang saya tahu.

Beda dengan Sprint Review yang biasanya lebih serius, saya biasanya membawa Sprint Retrospective dengan suasana yang lebih santai dan kasual. Ini agar anggota team lebih lepas dalam menyampaikan uneg-unegnya. Selain itu saya juga selalu berusaha membuat lingkungan yang aman untuk tim berbicara dengan tidak men-judge siapapun yang berbicara dan sebisa mungkin membuat setiap feedback itu anonymous (tidak diketahui siapa yang mengatakan). Salah satu cara yang saya gunakan untuk membuat lingkungan yang anonymous adalah dengan menggunakan post-it yang tidak diberi nama untuk menulis feedback atau bisa juga menggunakan tool online seperti miro atau easyretro.

Oke langsung kita mulai bagaimana biasanya sprint retro itu berjalan.

(Opsional) Awali Dengan Game Untuk Ice Breaking atau Team Building

Apabila memungkinkan, saya suka mengawali sprint retro dengan game untuk melatih kekompakan atau ice breaking. Bentuk gamenya bia bermacam-macam, saya pernah mengikuti game yang menggunakan tali, atau meminta peserta untuk menjelaskan suatu gambar random, tebak-tebakan, dan lain-lain.

Game Tali Silaturahmi Sebelum Sprint Retrospective

1. Dialog Bebas

Dalam sprint retro dengan dialog bebas, scrum master akan menanyakan kepada tim member tentang kesannya pada sprint ini dan apa yang menurut mereka bisa ditingkatkan. Prosesnya tidak sulit, hanya seperti dialog biasa saja.

Menurut saya, kekurangan dari retro yang seperti ini adalah kurangnya kerahasiaan karena semua tahu dan bahkan melihat atau memperhatikan siapa yang berbicara. Dampaknya yang berbicara menjadi tidak lepas atau bahkan takut. Biasanya kalau sudah begini, yang berani ngomong hanya satu atau dua orang, sehingga hasil retro jadi kurang optimal.

2. What went well / What went wrong / What can be improved

Cara ini adalah cara favorit saya dalam melakukan retro. Caranya dengan meminta scrum team untuk menuliskan apa yang menurut mereka berjalan baik dan berjalan kurang baik. Apabila dilakukan dengan tatap muka, saya biasanya membagikan post-it atau potongan kertas dan meminta mereka menulis satu hal di satu kertas dan menempelkannya di dinding atau papan tulis yang sudah ditandai “What went well” dan “What went wrong”.

Running an agile team, Iterate better with quality retrospectives. | by  Rohit Sharma | Better World | Medium

Setelah semua anggota team memberikan pendapatnya, scrum team lalu memberikan voting kepada feedback yang mereka sependapat. Baiknya dibatasi vote setiap orang, misalnya 5 untuk went well dan 5 untuk went wrong.

Scrum master lalu mulai membahas masing-masing feedback dan mengelompokkan feedback yang serupa, dimulai dari yang mendapatkan paling banyak vote. Sambil berjalannya pembahasan, akan muncul ide-ide tentang improvement yang bisa dilakukan, tulis ide-ide itu di bagian “What can be improved”.

Setelah pembahasan went well dan went wrong selesai, kita mulai membahas ide-ide improvement yang tercipta. Masing-masing ide dibahas dan dipilih oleh tim. Ide yang terpilih akan dilakukan pada sprint berikutnya.

3. Mad / Sad / Glad

Proses mad/sad/glad sangat mirip dengan cara went well yang saya bahas di atas. Dimulai degan setiap team member diminta untuk menuliskan apa yang membuat mereka marah (mad) pada sprint lalu, apa yang membuat mereka sedih/kecewa (sad), dan apa yang membuat mereka senang (glad). Setelah itu setiap item dibahas bersama untuk menentukan improvement apa yang akan dilakukan untuk menghilangkan item mad dan sad, serta menambah item glad.

(Opsional) Masukkan Improvement Action Item ke Jira

Nah, sekarang kita sudah dapat nih improvementnya mau apa aja, selanjutnya apa? Selanjutnya tidur dan lupakan hahaha. Bercanda, bercanda. Tapi bener lho, banyak yang setelah dapet improvement plan lalu lupa, ga ada actionnya. Supaya kita ga lupa improvementnya apa saja, ada baiknya improvement action itu kita input juga ke Jira sehingga setiap hari kita lihat dan kita ingat.


Demikian penjelasan singkat tentang apa bedanya Sprint Review dan Sprint Retrospective. Semoga jelas ya teman-teman. Saya harap teman-teman bisa menjalankannya dengan baik dan tidak men-skip sprint retrospective. Apabila ada pertanyaan silakan tulis di kolom komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan Pilihan