Sebulan lalu, kayaknya gue nggak akan kepikiran bakal nulis post ini.
Seperti banyak developer yang sudah lama berjibaku di industri, gue lumayan skeptis dan memandang remeh sama orang yang pakai AI untuk coding. Jujur aja, ego juga sedikit tersentil denger AI juga bisa coding. Gila aja gue belajar susah-susah, eh dia bisa juga pakai AI doang. Buat orang yang sudah terbiasa bikin sistem dengan cara “proper”: arsitektur rapi, logic jelas, semuanya ditulis manual, jelas vibe coding alias koding pakai AI ini meragukan ya…
Awal Mula Terpaksa Kenal
Gue pertama kali kenal vibe coding dari temen kantor, seorang bule namanya Keith, dia CTO dari perusahaan yang baru saja kami akuisisi. Dia sudah bikin beberapa sistem internal pakai AI, terutama untuk produktivitas timnya.
Dari banyak sistem yang dibuat Keith, satu sistem yang di-handover ke gue karena mau dipakai untuk seluruh grup adalah Learning Management System (LMS), yang dia bangun sepenuhnya dengan AI. Waktu gue bilang sepenuhnya, itu maksudnya bener-bener pakai AI doang, dia ga buka IDE apapun, ga buka database juga. Cuma pakai AI web-based sama setting server di Cloudflare. Dia bahkan bilang “kalau udah pakai AI, harus pakai AI terus untuk semua perubahan, jangan di-tweak manual”. Gila kali.
Reaksi awal gue? Jelas, ragu. Tapi terus dia demoin hasilnya, eh kok bagus. Terus ngobrol sama Keith lebih jauh, ternyata oke juga ini.
Analogi dia tentang vibe coding itu
Kayak yang tadinya kita nyetir mobil manual, sekarang kita pakai self driving. Ga bener-bener dilepas, kita masih jadi supervisor, sewaktu diperlukan kita tetap intervensi dan mengarahkan.
Jadi peran kita bukan lagi jadi codernya, tapi jadi managernya, kayak kalau kerja sama junior developer aja.
Jadi kita bukan sekadar “ngoding”, tapi lebih ke:
- ngedesain
- ngasih arahan
- dan nge-review hasilnya
AI jadi “eksekutor”-nya.
Akhirnya Terpaksa Coba Sendiri
Awalnya, gue sempat coba lempar development LMS ini ke developer gue. Tapi mereka prefer ngelanjutin ini secara manual, begitu gue tanya berapa lama dan berapa effortnya, ternyata cukup makan bayak waktu mereka dan cukup lama waktunya buat nambahin satu fitur doang. Estimasinya wajar sih, tapi buat kebutuhan bisnisnya, ga ngejar, karena HR minta butuh ini ready 3 bulan lagi.
Awalnya oke lah, lanjut, gpp manualin weh. Tapi ternyata workload mereka penuh, akhirnya nggak ada yang sempat ngerjain.
Dengan demikian gue putuskan untuk kerjain sendiri dan lanjutin coding pakai AI. Walaupun harusnya level gue udah ga ngerjain beginian lagi ya, tapi ya udah lah ya, itung-itung belajar dan nyobain hype vibe coding. *menggulung lengan baju kayak Jokowi*
Gue pun belajar sama Keith dan niru workflow dia, dia pakai GenSpark (web-based).
Setelah 2 hari coba, gue jujur kaget, karena ternyata seru banget, cepet banget, dan kualitasnya oke!
Gue bisa deliver fitur dalam sehari yang biasanya butuh waktu berminggu-minggu.
Mentok di GenSpark
Pakai GenSpark oke, happy gue, gampang. Tapi masalahnya bukan di teknologinya—tapi di limitasi dari aplikasinya. Dengan premium subscription $25/bulan, gue dapet 1,200 token. Masalahnya, token segitu udah habis kurang dari seminggu. Kalau mau lanjut harus beli token lagi.
Walaupun ini masih jauh lebih murah ketimbang hire developer, intern sekalipun, tapi rasanya costnya sulit diprediksi. Jadilah gue mulai coba cari alternatif.
Thank you, GenSpark, sudah membuka jalan dan mata gue tentang vibe coding, tapi kita harus berpisah di sini.
Alasan Lain: AI-nya Gagal
Ada satu alasan yang cukup krusial dan bikin gue berpikir ulang untuk lanjutin development yang sebelumnya full pakai GenSpark AI.
Suatu waktu gue minta GenSpark untuk ubah flow authorization, gue minta tambahin Microsoft SSO sign in, terus ada multiple role untuk satu user. Dia bisa bikin itu, tapi begitu sign out dan back browser, lah kok masih bisa, ga ke-logout. Akhirnya gue coba lihat database dan session-nya, ternyata ga pake session, dia pakai stateless authentication. Minta AI benerin bolak-balik ga bisa-bisa juga, malah jadi ga bisa login sama sekali.
Terus coba gue lihat deh full source code dan databasenya. Ya tuhan, berantakan banget ya. Design databasenya ada yang redundant, tablenya ga standar, file structure codingnya pun berantakan.
Stack yang dipilihin AI pakai Vite—gue nggak terlalu familiar, jadi mau debug manual juga susah. Minta AI benerin? Nggak berhasil.
Di situ gue ambil keputusan:
Let’s scrap this and start over! With AI!
Gue bikin repo baru, dan bangun ulang LMS ini dari nol.
Pindah ke Claude + VS Code
Setup baru gue:
- Bikin basenya dulu manual pakai Next.js (yang gue lebih familiar)
- Diskusi sama ChatGPT buat design schemanya (gue pakai Prisma dan PostgreSQL)
- Subscribe Claude Code dan pasang di Visual Studio Code
- Terus lanjut build fiturnya sedikit-sedikit pakai bantuan Claude
Dan ini ternyata jauh lebih powerful.
- Lebih cepat
- Lebih fleksibel
- Hasilnya lebih bagus
- Limit reset harian (lebih sustainable)
- Lebih hemat secara overall
Rasanya bukan cuma “tool”, tapi sudah jadi workflow development yang proper. Dan rasanya gue lebih punya kendali atas design fitur dan databasenya. I’m happy.
Tiba-tiba Jadi Aja
Dalam 2 hari:
- LMS sudah fully functional
- Fiturnya setara (bahkan lebih baik)
- Struktur lebih rapi
Padahal kalau cara manual, ini bisa makan waktu berbulan-bulan.
Setelah itu gue demo ke user, dapat sekitar 5 feedback (besar dan kecil).
Semua fitur baru dan revisinya gue selesaikan dalam 1 hari doang! Wkwkwk
Kenapa Vibe Coding Works Buat Gue
Setelah gue refleksi, ini bukan cuma soal tools, bukan hanya karena AI-nya jago.
Tapi karena background gue juga mendukung:
1. Product Mindset
Gue berpengalaman jadi Product Manager dan terbiasa:
- Translate kebutuhan jadi fitur
- Design user flow
- Prioritization
2. Technical Knowledge
Gue dulunya developer, jadi masih bisa:
- Baca kode
- Nilai apakah ini benar atau nggak
- Arahkan AI kalau salah
3. System Design
Gue pernah jadi business & system analyst, jadi gue ngerti:
- Struktur database
- Normalisasi
- Arsitektur aplikasi
Jadi gue tuh nggak “pasrah” aja ke AI.
Gue tetap:
- Ngasih arahan
- Review
- Koreksi
Realita: Ini Akan Mengubah Peran Developer
Ini bagian yang mungkin agak sensitif.
Gue rasa, ya—vibe coding akan impact besar ke role developer.
Karena sekarang:
- Orang seperti gue yang udah lama ga coding bisa build system sendiri lagi
- Tanpa harus selalu allocate resource developer
- Dan jauh lebih cepat
Tapi bukan berarti developer jadi nggak dibutuhkan.
Cuma… standar-nya naik.
Saran untuk Developer Baru
Kalau kamu masih di awal karir:
Jangan terlalu cepat bergantung ke AI.
Karena untuk pakai AI dengan efektif, kamu harus:
- Bisa nge-review hasilnya
- Bisa detect kalau ada yang salah
- Bisa debug kalau AI gagal
Kalau langsung lompat ke AI tanpa basic:
- Aplikasi kamu mungkin “jalan”
- Tapi begitu ada masalah, kamu stuck
- Code quality dan database quality kamu jelek
AI itu seharusnya jadi accelerator, bukan pengganti skill.
Realita Kondisi di Tim Gue
Saat ini, tim developer gue masih ragu untuk pakai AI untuk bantu coding. Berkali-kali gue dorong dan tawarin untuk dibeliin Claude, tapi mereka masih ragu, ga berani pakai itu di sistem ERP utama kami.
Dan itu valid:
- Risiko lebih tinggi
- Concern soal maintainability
Tapi menurut gue ada middle ground:
- Pakai AI untuk bagian tertentu dulu
- Tetap ada code review
- Adopsi pelan-pelan
Risikonya bisa dikelola.
Penutup
Setelah 1 bulan, kesimpulan gue:
Vibe coding bukan sekadar hype—ini perubahan cara kerja.
Ini mengubah:
- Cara kita build
- Kecepatan delivery
- Siapa yang bisa build
Dan untuk gue pribadi, gue akan lanjut pakai ini.
Setidaknya sampai ada teknologi yang lebih baik lagi.
Kalian udah nyoba vibe coding? Gimana pengalamannya?
Related Articles
Digital Transformation, Management, Tutorial
Business, Digital Transformation