Blog, Saham

Analisis Fundamental Saham: SQMI – Wilton Makmur Indonesia Tbk 21/10/2020

Disclaimer: Analisis ini dibuat sebagai bahan latihan dan pembelajaran. Saya bukan seorang ahli analisis fundamental, karena itu apapun yang tertulis di sini, take it with a grain of salt.

Hari ini saya iseng-iseng buka ipotgo untuk lihat-lihat saham, lalu kok melihat saham ada emiten yang angkanya cukup ekstrim, namanya SQMI, Wilton Makmur Indonesia, Tbk. Angka PBV -15.84, PER -142.15, tapi harga dia ga gocap, masih 172.

Sebelum kita bahas fundamentalnya, sebelumnya kita bahas singkat dulu apa arti PBV minus dan apa arti PER minus.

PBV atau Price Book Value dihitung dari harga per saham dibagi dengan nilai buku per saham. Nilai buku adalah aset dikurangi liabilitas. Mudahnya PBV itu menunjukkan dengan harga yang kita bayar, kita dapat “harta” berapa. Nah kalau suatu nilai jadi minus kemungkinannya dua, pembilangnya minus, atau penyebutnya minus, pembilang (harga saham) pasti positif kan, berarti nilai bukunya negatif. Nilai buku negatif karena liabilitas lebih besar dari aset, artinya perusahaan ini banyak utang.

PER atau Price Earning Ratio dihitung dari harga per saham dibagi laba per saham. Kalau PER minus berarti labanya minus alias rugi.

Dari dua ini minus sebenarnya sudah agak seram ya SQMI ini, banyak hutang dan merugi.

SQMI – Wilton Makmur Indonesia, Tbk

SQMI adalah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan (mining). Masuk bursa sudah cukup lama, sejak 15 Juli 2004. Sahamnya 92% dimiliki holdingnya, hanya 7.5% yang dilepas ke masyarakat.

Selama covid, SQMI termasuk perusahaan yang terdampak dikarenakan karyawannya yang WFH, penghential operasional parsial, dan tenaga ahli dari China yang tidak dapat bekerja.

Kenapa nama perusahaannya Wilton tapi kode emitennya SQMI? Awalnya SQMI didaftarkan ke bursa oleh PT Sanex Qianjiang Motor International yang bergerak di perakitan sepeda motor China merk SANEX. Setelah itu SQMI beberapa kali berganti kepemilikan dan bidang usaha.

Performa Saham 1 Tahun Kebelakang

Kalau kita lihat performa 1 tahun kebelakang, terlihat di tahun lalu sempat ada fluktuasi, tapi lalu turun dan cenderung flat selama 6 bulan ke belakang ini. Angka tertinggi sempat di Rp580, tapi setelah itu manteng di sekitaran Rp200.

Management

Kalau kita coba lihat jajaran direksi SQMI di websitenya, tidak ada prestasi atau track record yang bisa di-highlight. Untungnya bila kita google nama dari jajaran direksi, tidak ada berita negatif, aman.

Bedah Laporan Keuangan

Kita coba bedah likuiditasnya dulu, apakah SQMI mampu membayar kewajiban janga pendeknya. Kalau kita lihat cash dia hanya 26.7B sedangkan short term debt ada 526.9B, mau pakai apa ini bayar utangnya ya…

Untuk kewajiban jangka panjang juga mengkhawatirkan karena utang jangka panjang ada 44.2 B sedangkan equitinya minus -1687B. Kalau lihat ini ya pasti tidak bisa bayar utangnya ya… Tapi aneh ya utang jangka panjangnya jauh lebih kecil dari utang jangka pendek, lalu equitynya pun minus… Ilmu saya belum sampai untuk bisa menerjemahkan ini, ada pembaca yang tahu kenapa angkanya begini?

Dari sisi pendapatan, SQMI membukukan revenue 2.5B dengan keuntungan kotor 643.1M. Setelah dikurangi pengeluaran, secara operasional mereka rugi 18.6B. Pantes PER dia minus parah ya.

Dividen

SQMI tidak memberikan dividen kepada pemegang sahamnya, jadi kalau Anda tipe investor yang mengharapkan dividen, silakan cari emiten lain.

Prospek

Mengingat industri pertambangan yang sedang kurang bergairah, nampaknya prospek SQMI kedepannya juga kurang baik.

Rekomendasi

Karena sudah jelas PBV dan PER negatif lumayan besar, sebaiknya tidak dibeli.