Table of contents
Share Post

ICE BSD City, 6 November 2025

Kadang kita datang ke pameran, melihat produk, dapat brosur, pulang.

Event yang saya hadiri kali ini terasa berbeda.

Di satu hall besar, ada tiga event yang digabungkan menjadi satu pengalaman yang terasa immersive:

  1. EV Charge Live – fokus pada kendaraan listrik dan ekosistem charging

  2. Mobility Live – fokus pada mobilitas masa depan, transportasi umum, integrasi moda

  3. Solar & Storage – fokus pada panel surya dan penyimpanan energi

Tiga tema besar ini tidak dipisah ruangan, tapi disatukan dalam satu hall dengan tiga panggung utama yang dirangkai diantara berbagai booth pameran. Hasilnya adalah campuran energi yang menarik — antara diskusi transportasi, pameran teknologi, dan presentasi solusi energi terbarukan.

Saya datang dengan rasa penasaran, hanya karena kepo. Saya pulang dengan banyak insight.


Jakarta dan Ambisi Besarnya: Lebih Sedikit Kendaraan Pribadi, Lebih Banyak Transportasi Bersih

Dalam salah satu sesi di panggung Mobility Live, pemerintah daerah DKI Jakarta memaparkan roadmap adopsi kendaraan listrik dan transportasi publik di Jakarta.

Rencana jaringan transportasi umum di Jabodetabek

Fakta menarik:

  • Penetrasi kendaraan listrik di Jakarta saat ini masih dibawah 5%

  • Target Jakarta: 10% pada tahun 2030

Namun strategi pemerintah bukan hanya “ayo beli EV”. Fokusnya adalah mengubah pola transportasi kota.

Prioritas transportasi Jakarta (secara eksplisit disebut di panggung):

  1. Pejalan kaki

  2. Kendaraan umum

  3. Kendaraan listrik

  4. Kendaraan BBM (yang akan di-disinsentif)

Dan push & pull strategy-nya cukup jelas:

PULL → tarik orang ke transportasi umum

  • Perbaikan layanan

  • Integrasi antarmoda (Bus → MRT → LRT)

  • Park and ride

  • Transportasi gratis di Jakarta untuk 15 golongan masyarakat

PUSH → dorong orang meninggalkan kendaraan pribadi

  • Ganjil genap yang sudah berjalan di Jakarta

  • Disinsentif parkir untuk kendaraan BBM (dan insentif untuk EV)

  • Potensi implementasi road pricing (jalan berbayar) yang ternyata masih akan dijalankan walaupun selama ini selalu maju-mundur

Statistik Transportasi Umum di Jakarta

Target pangsa pengguna transportasi umum:

Tahun Target Share Transportasi Umum
Sekarang 22%
2030 27%
2044 55%

Artinya, dalam 20 tahun ke depan Jakarta ingin mencapai titik di mana lebih banyak orang menggunakan transportasi umum daripada kendaraan pribadi.


Energi Terbarukan: Solar Panel Sudah Tidak “Eksklusif” Lagi

Di area Solar & Storage ada beberapa vendor dari luar negeri (China), namun ternyata juga sangat banyak vendor lokal yang menawarkan solusi untuk industri maupun rumahan, kebanyakan menawarkan solusi solar PV dengan harga yang cukup terjangkau. Waktu saya tanya apakah ada aturan tentang penggunaan solar panel seperti di luar negeri, salesnya bilang saat ini belum ada batasan. Setelah saya cek via Google, ternyata benar, sejak Maret 2024, aturan terbaru tidak lagi membatasi pemasangan panel surya atau PLTS atap. Nah ini menjadi menarik terutama untuk saudara-saudara kita di luar Jawa yang pasokan listriknya sering tidak stabil walaupun PLN selalu bilang listrik kita oversupply. Sayangnya saat saya tanya apakah sudah menjangkau seluruh Indonesia, kebanyakan masih berfokus di Jabodetabek. Ya, tentu ada concern investasi dan ekspansi bisnis, semoga bisa segera tersebar ke seluruh Indonesia.

Sebagai gambaran biaya, di salah satu vendor menawarkan paket termurah mereka yang berisi solar panel + control panel + baterai, dengan harga hanya Rp 27 juta dan bisa dicicil!

Solar sudah tidak lagi identik dengan:

“mahal, ribet, untuk villa atau rumah mewah.”

Sekarang pendekatannya:

“hemat listrik bulanan, balik modal dalam 4–5 tahun.”


Persebaran EV masih terpusat di Jakarta dan kota besar, terhalang charging station yang masih terbatas

Untuk EV roda dua, Anda juga pasti sudah menebak bahwa sebagian besar hanya digunakan oleh ojek online. Kenapa demikian? Padahal charging motor listrik lebih mudah daripada mobil, harganya pun tidak terlalu mahal. Dari salah satu diskusi panel, terungkap salah satu sebabnya adalah karena masih mahalnya DP (down payment) untuk pembelian motor listrik. Masalah di sisi financing ini membuat orang masih memilih motor BBM. Bayangkan, untuk memiliki motor listrik, DP yang diminta sekitar 3 juta rupiah, sedangkan untuk motor BBM bisa dibawa pulang dengan DP hanya 200 ribu saja!

Untuk EV roda empat, walaupun chargin station (SPKLU) sudah cukup tersebar, terutama di kota besar, masalahnya ternyata juga di finansial, yaitu rendahnya harga jual kembali. Beberapa orang masih memandang mobil sebagai investasi, mereka tidak ingin harganya drop bila dijual kembali. Sedangkan mobil EV saat ini harganya akan terjun bebas setelah beberapa tahun. Salah satu pembicara mengatakan harusnya mobil itu dianggap barang konsumsi, jadi jangan berharap untuk dijual kembali. Menurut saya pendapat ini agak naif ya, lha wong faktanya memang ada harga jual kembalinya kok, ya wajar lah orang ingin memaksimalkan itu.

Konsep Smart Mobility oleh Prof Suhono dari ITB

Sebab lainnya adalah belum adanya kebijakan pembatasan kendaraan BBM seperti low emission area yang ada di luar negeri.

Di salah satu sesi yang membahas penyebaran charging station saya sempat bertanya

“Kenapa charging station tidak dibuat seperti charger HP, charging stationnya standar, kepalanya saja, semua orang bawa kabel sendiri sesuai kendaraannya dan tinggal colok?”

Jawaban dari para panelis:

  1. Produsen ingin memproteksi investasinya, jadi mereka membuat charging eksklusif untuk brand tertentu.

  2. Belum ada standar baterai yang menyebabkan ada risiko kerusakan bila menggunakan charging station yang tidak pas.
    (Feeling saya jawaban yang sejujurnya adalah yang pertama, jawaban kedua hanya safe answer saja)

Tapi seluruh panel sepakat:

Begitu pemerintah mengeluarkan standar nasional untuk charging, seluruh pemain akan ikut.

Sekali lagi, kuncinya: regulasi.


Inovasi Menarik yang Saya Temukan

Selain teknologi besar seperti panel surya dan sistem penyimpanan energi, ada beberapa produk yang sangat menarik secara konsep:

1. Static bike yang menghasilkan listrik

Bentuknya mirip seperti sepeda statis di gym, tapi setiap kayuhan dapat mengisi daya ke baterai portabel.

Bayangkan coworking space yang punya area ini:

  • orang kerja sambil olahraga, sekaligus menghasilkan energi untuk nge-charge gadget

  • olahraga di rumah untuk mengisi baterai motor listrik

Sepeda statis yang bisa untuk charge baterai

2. Akuarium micro algae

Ini juga sangat menarik karena juga menawarkan solusi sustainability untuk carbon trading. Jadi mereka menawarkan akuarium ukuran 4×1 meter, isinya mikro-algae yang menghasilkan oksigen setara 10 pohon besar!

Solusi menarik untuk:

  • perusahaan yang butuh carbon offset

  • kantor yang ingin lebih hijau tanpa luas area besar

Teknologi tidak selalu harus besar untuk memberi dampak.

Akuarium mikro-algae untuk carbon trading


Kesimpulan: Teknologi dan Industri Siap, Regulasi Masih Ketinggalan

Setelah seharian menghadiri panel, berbicara dengan vendor, dan melihat demo produk, saya merangkum 3 poin utama:

  1. Teknologi EV dan solar sudah cukup matang

  2. Harga sudah turun drastis

  3. Yang kurang hanya keberanian membuat kebijakan

Standarisasi charging → pemerintah.
Insentif dan pembiayaan energi bersih → pemerintah.
Push & pull untuk migrasi transportasi umum → pemerintah.

Industri sudah siap, begitu infrastruktur charging siap, demand akan mengikuti. Di sini juga perlu peran pemerintah yang mau “berkorban” investasi charging station di luar daerah.


Terima kasih sudah membaca.

Kalau kamu punya pandangan soal EV dan energi terbarukan, silakan tinggalkan komentar. Siapa tahu kita bisa diskusi atau bertukar insight.

Arfian

Arfian Agus adalah seorang profesional di bidang teknologi dan inovasi digital dengan fokus pada transformasi digital, desain, dan pengembangan produk. Dengan pengalaman yang luas dalam memimpin proyek-proyek teknologi dan menyusun strategi inovasi, Arfian berkomitmen untuk membantu perusahaan beradaptasi dan berkembang di era digital.

Stay in the loop

Subscribe to our free newsletter.